Minggu, 15 April 2012

STRATEGI PENINGKATAN MUTU GURU


Menggantungkan harapan peningkatan kemampuan profesi hanya pada penyelenggaraan penataran bukan strategi melainkan tragedi. Ada beberapa alasan mengapa itu berbahaya, Pertama semakin banyak penataran yang guru ikuti sesungguhnya kontra produktif pada peningkatan efektivitas belajar siswa. Semakin banyak penataran semakin banyak kegiatan belajar siswa terganggu.  Alasan lain jumlah guru pada masa otonomi ini semakin banyak. Karena itu, jika pembinaan peningkatan mutu bergantung pada sistem penataran, maka akan semakin tinggi biaya yang dibutuhkan. Secara empirik terbukti bahwa tidak pernah penataran dapat dinikmati oleh seluruh guru, hanya guru-guru yang memiliki kompetensi tertentu yang banyak mendapatkan peluang.
Pengalaman menunjukkan pula penyebarluasan hasil penataran kepada guru-guru lain di sekolah sebagai produk pemusatan latihan guru secara nasional mapun lokal pada umumnya tidak berjalan efektif. Pelatihan yang selama ini dilaksanakan telah meningkatkan kompetensi guru namun belum tentu berpengaruh pada meningkatnya kompetensi siswa. Selain itu juga, kadang-kadang guru yang mengikuti pelatihan atau  penataran yang mereka cari bukan ilmunya melainkan sertifikat yang akan mereka peroleh.
Kemudian juga masih banyak sekolah yang belum mengidentifikasi standar kompetensi yang perlu dikuasai siswa di samping kompetensi yang berasal dari standar isi. Diharapkan dengan terindentifikasinya kompetensi siswa, maka sekolah juga dapat menentukan kompetensi guru di dalam membimbing siswa untuk mencapai kompetensi siswa tersebut. Setelah kompetensi guru diindentifikasi maka baru dapat ditentukan strategi untuk meningkatkan kompetensi guru tersebut.
Terdapat empat strategi untuk meningkatkan mutu kompetensi guru di sekolah yaitu:
Pertama, peningkatan melalui pendidikan dan pelatihan (off the job training). Guru dilatih secara individual maupun dalam kelompok untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terbaik dengan menghentikan kegiatan mengajarnya. Kegiatan pelatihan seperti ini memiliki keunggulan karena guru lebih terkonsentrasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Namun demikian kegiatan seperti ini tidak dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan terlalu sering. Semakin sering pelatihan seperti ini dilakukan, semakin meningkat dampak kontra produktifnya terhadap efektivitas belajar siswa.

Kedua, pelatihan dalam pelaksanaan tugas atau on the job training. Model ini dikenal dengan istilah magang bagi guru baru untuk mengikuti guru-guru yang sudah dinilai baik sehingga guru baru dapat belajar dari seniornya atau diistilahkan juga dengan program induksi. Program induksi wajib dilakukan untuk guru baru dan program ini merupakan salah satu penilaian untuk dapat 100% menjadi PNS bagi guru yang masih CPNS. Pemagangan dapat dilakukan pada ruang lingkup satu sekolah atau pada sekolah lain yang memiliki mutu yang lebih baik.
Ketiga,  seperti yang dilakukan Jepang yang populer dengan istilah Lesson Studi. Kegiatan ini pada prinsipnya merupakan bentuk kolaborasi guru dalam memperbaiki kinerja mengajarnya dengan berkonsentrasi pada studi tentang dampak positif guru terhadap  kinerja belajar siswa dalam kelas. Kelompok guru yang melakukan studi ini  pada dasarnya merupakan proses kolaborasi dalam pembelajaran. Siswa dipacu untuk menunjukkan prestasinya, namun di sisi lain guru juga melaksanakan proses belajar untuk memperbaiki pelaksanaan tugasnya. Namun, pada kegiatan lesson studi ini guru harus siap dikritik secara positif oleh teman sejawat. Sehingga di dalam pelaksanaan lesson studi sebaiknya yang kita amati dalam pembelajaran adalah siswa, walaupun pada akhirnya tertuju kepada guru.
Keempat, melakukan perbaikan melalui kegiatan Penilitian Tindakan Kelas (PTK). Kegiatan  ini dilakukan guru dalam kelas dalam proses pembelajaran. PTK dapat dilakukan sendiri dalam pelaksanan tugas, melakukan penilaian  proses maupun hasil untuk mendapatkan data mengenai prestasi maupun kendala yang siswa hadapi serta menentukan solusi perbaikan. Karena perlu ada solusi perbaikan, maka PTK sebaiknya dilakukan melalui beberapa putaran atau siklus sampai guru mencapai prestasi kinerja yang diharapkannya. Penelitian tindakan kelas ini merupakan salah satu sarana bagi guru untuk pengembangan profesi guru secara berkelanjutan dalam penilaian kinerja guru.
Untuk mendukung sukses peningkatan kompetensi guru melalui berbagai empat strategi di atas diperlukan (1) Tujuan pembelajaran harus jelas, artinya guru perlu memahami benar-benar perilaku siswa yang guru harapkan sebagai indikator keberhasilan. (2) Indikator proses dan hasil pada tiap tahap kegiatan terukur. (3) Melalui cara yang tertentu yang jelas siklusnya pentahapannya (4) Jelas struktur pengorganisasian kegiatannya. (5) Memiliki pengukuran keberhasilan.
Persoalan ini mendorong sekolah untuk memilih strategi terbaik untuk mewujudkan harapannya. Di sisi lain uraian di atas menyiratkan pentingnya merumuskan indikator lulusan yang mencerminkan mutu guru yang dibutuhkan sesuai dengan cita-cita sekolah. Semakin tinggi cita-cita yang hendak sekolah wujukan semakin tinggi pula mutu guru yang dibutuhkan.Secara sederhana indikator lulusan dan kompetensi guru dalam disejajarkan dalam tabel pada contoh berikut :
No
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
KOMPETENSI GURU
1
Fasih membaca Alquran
  • Fasih membaca Alquran
  • Menjadi pelatih yang efektif dalam membaca alquran
2
Sehat jasmani, sehat rohani
  • Memimpin siswa menjaga kebersihan diri
  • Memimpin siswa menjaga kebersihan lingkungan,
  • Mengembangkan budaya mencintai alam.
  • Menjadi pengayom jiwa yang resah.
  • Menumbuhkan semangat belajar siswa.
3
Melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dengan mendapatkan peluang belajar pada sekolah ternama.
  • Mengembangkan kurikulum sesuai dengan kubutuhan siswa melanjutkan pendidikan ke sekolah ternama.
  • Merencanakan pembelajaran yang kompetitif.
  • Melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan.
  • Menguasai materi pembelajaran
  • Menguasai pengelolaan alat peraga
  • Menguasai pengelolaan penilaian
  • Menguasai pengelolaan pengukuran standar
  • Melahirkan siswa yang kompetitif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar