Jumat, 11 April 2014

SISTEM KREDIT SEMESTER



Oleh:
Adi Saputra, S.Pd, M.Pd
 a.        Konsep Dasar SKS di SMA
Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan  mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam  satuan kredit semester (sks). Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur.
Beban belajar merupakan ukuran yang menunjukan kuantitas yang harus dilakukan oleh peserta didik mengikuti tugas-tugas pembelajaran dalam bentuk kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam rangka mencapai kompetensi. Beban belajar menuntut konsekuensi peserta didik meluangkan waktu dan tenaga untuk melakukan kegiatan yang telah didesain dalam silabus mata pelajaran yang waktunya telah ditentukan. Beban belajar dengan kredit lebih besar menuntut pengorbanan lebih banyak untuk melakukan tugas pembelajaran. Beban belajar mata pelajaran dihitung untuk kegiatan tiap semester dan dinyatakan dalam satuan kredit semeter.
Mata pelajaran didesain terdiri dari mata pelajaran yang wajib diikuti oleh setiap peserta didik dan mata pelajaran pilihan yang diikuti peserta didik berdasarkan minat, potensi, dan kebutuhannya sesuai dengan pilihan karier dan masa depannya. Kegiatan tatap muka setiap mata pelajaran dilaksanakan oleh guru atau tim guru dalam kelas yang berciri khusus mata pelajaran dengan sistem Subject Based Classroom dan team teaching. Kegiatan tatap muka didesain dan ditetapkan waktunya oleh pendidik berdasarkan jumlah satuan kreditnya.
Sistem subject-based classroom didefinisikan sebagai manajemen kelas berbasis mata pelajaran; atau dapat dikatakan, pembagian ruang kelas berdasarkan mata pelajaran, seperti Kelas Fisika, Kelas Kimia, Kelas Biologi, dan seterusnya. Sistem subject-based classroom juga dinamakan moving class karena siswa berpindah (moving) dari satu kelas ke kelas yang lain sesuai dengan mata pelajaran. Namun moving class bukan lah suatu keharusan, tergantung kondisi sekolah masing-masing.
Model team-teaching didefinisikan sebagai tim yang terdiri dari dua guru atau lebih yang bekerja bersama dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi aktivitas pembelajaran untuk sekelompok siswa dalam waktu yang sama. Salah satu model yang dipilih adalah collaborative-teaching, yaitu sebagai tim yang bekerja bersama dalam perencanaan di kelas, pertukaran informasi antar guru ataupun antar peserta didik, evaluasi hasil belajar peserta didik dan tindak lanjutnya.

Kamis, 10 April 2014

Model atau Metode Pembelajaran untuk Kelas Cerdas Istimewa



Oleh:
Adi Saputra, S.Pd, M.Pd

Pembelajaran di kelas cerdas istimewa merupakan kegiatan nyata dalam mengimplementasikan kurikulum yang telah didiferensiasikan. Aspek- aspek yang berkaitan dengan pembelajaran penting dibicarakan diantaranya adalah model pembelajaran. Pembelajaran untuk siswa cerdas istimewa Barbe dan Renzulli menyarankan sebagai berikut:
1.        Membentuk  pengalaman  belajar  sesuai  dengan  rasa  ingin  tahu alamiah siswa dengan menghadapkan pada masalah-masalah yang relevan dengan kebutuhan, tujuan dan minat siswa.
2.        Memperkenankan  siswa  untuk  ikut  serta        dalam  menyusun  dan merencanakan kegiatan-kegiatan belajar.
3.        Memberi pengalaman dari kehidupan nyata yang meminta peran serta aktif  siswa  dan  mengembangkan  kemampuan            yang diperlukan untuk itu.
4.        Sedapat mungkin guru bertindak sebagai penyampai informasi dan tidak memaksa memberi  pengetahuan yang belum siap diterima oleh siswa.
5.        Mengusahakan agar program belajar cukup fleksibel untuk mendorong siswa melakukan penyelidikan, percobaan, dan penemuan sendiri.
6.        Mendorong dan menghargai inisiatif, keingintahuan dan menguji, serta membangun orisinalitas.
7.        Membiarkan siswa belajar dari kesalahannya dan menerima akibatnya selama tidak berbahaya atau membahayakan.
Selanjutnya metode pengajaran bagi siswa cerdas istimewa yang disarankan oleh para ahli pendidikan bermacam-macam, namun menurut   Akbar  metode  pembelajaran  yang  paling  sesuai  adalah metode  pembelajaran  yang  berorientasi  pada  cara  berpikir  induktif, divergen  dan evaluatif.  Hafalan  pada  pembelajaran  di  program kelas cerdas istimewa sejauh mungkin dicegah dengan memberikan tekanan pada tehnik yang berorientasi pada penemuan dan pendekatan induktif.
Sesuai  dengan  karakteristik  siswa  berbakat  intelektual, maka guru harus menggunakan   metode-metode   yang   banyak   memberi kesempatan  kepada  siswa  agar  mereka  dapat  aktif berpikir, dapat menemukan  masalah  dan  memecahkannya,  melakukan  percobaan- percobaan dan penelitian ilmiah, menyusun laporan dan sebagainya.
Kitano mencontohkan  metode-metode yang dapat digunakan untuk mengajar siswa berbakat intelektual sebagi berikut :
1.    Independent study, ialah memberikan kesempatan yang luas kepada siswa gifted untuk  mengerjakan  aktifitas  tertentu seperti melalukan proyek riset.
2.     Memberikan kesempatan maju dengan cepat dan kesempatan untuk mempelajari  unit  pelajaran yang  lebih  tinggi,  yaitu  memberi kesempatan   untuk   mengusahakan   aktivitas   belajar  baru   dan menghindarkan kebosanan karena pengulangan terhadap keterampilan yang sebenarnya sudah dikuasainya.
3.       Mempraktekkan  tingkat  proses  berpikir  tinggi,  yaitu  kegiatan belajar yang menuntut analisis, sintesis, dan cara berpikir divergen.
4.    Pelibatan  pembicara  tamu,  yaitu  mengundang  pembicara  tamu dengan tujuan memperkaya informasi yang berkaitan dengan topik yang ada pada kurikulum.
5.       Mentors, ialah kegiatan belajar dimana seseorang yang lebih tinggi keahliannya melakukan diskusi dan bekerja dalam lapangan interes yang    menarik   kedua   belah   pihak.  Mungkin   mentor  dapat memberikan kesempatan bekerjasama dalam bentuk memberikan bacaan,   ide-ide  dan melibatkan  siswa  dalam  aktivitas-aktivitas ilmiah.
6.       Pemberian materi yang lebih tinggi.