Minggu, 31 Januari 2016

43 MODEL PEMBELAJARAN



 Oleh:
Adi Saputra, M.Pd
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan Model Pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Berikut ini 43 model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Namun model-model ini bukan lah sesuatu yang kaku masih dapat ditambah atau digabung beberapa  model dalam satu kali pertemuan. Di samping itu juga model-model ini kita terapkan tergantung dengan karakteristik mata pelajaran, waktu, sarana prasarana, intake siswa, dan faktor lainnya yang sesuai dengan kondisi di satuan pendidikan masing-masing. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

1.              PICTURE AND PICTURE
Langkah-langkah :
1.         Menyajikan materi sebagai pengantar
2.         Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
3.         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
4.         Menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5.         Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6.         Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7.         Kesimpulan/rangkuman.

2.             DEMONSTRATION
Model ini digunakan khusus untuk materi yang memerlukan peragaan atau percobaan.
             Langkah-langkah :
1.         Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.         Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan dismpaikan.
3.         Siapkan bahan atau alat yang diperlukan.
4.         Menunjukan salah seorang siswa untuk mendemontrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
5.         Seluruh siswa memperhatikan demontrasi dan menganalisa
6.         Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemontrasikan
7.         Guru membuat kesimpulan.

3.             EXPLICIT INTRUCTION
Merupakan model pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan proseduran dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan  dengan pola selangkah demi selangkah. Model  ini dikembangkan oleh  Rosenshina & Stevens tahun 1986.
Langkah-langkah :
1.         Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
2.         Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
3.         Membimbing pelatihan
4.         Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
5.         Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan

4.              PENAMPILAN ACAK
Model ini merupakan pengembangan dari penulis sendiri untuk memaksimalkan atau melihat kemampuan siswa di dalam pembelajaran. Selain itu juga dapat menghidupkan suasana kelas.
Langkah-langkah:
1.            Menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.            Menyajikan materi.
3.            Memberikan contoh.
4.            Mengecek pemahaman dengan cara siswa tampil menjelaskan konsep atau mengerjakan soal. Siswa yang tampil secara acak (misalnya melihat tanggal hari itu, maka siswa yang tampil sesuai dengan tanggal yang dicocokkan dengan nomor urut di daftar hadir di kelas).
5.            Seandainya siswa tidak bisa menjelaskan atau mengerjakan soal, maka siswa diminta untuk menampilkan kebolehannya di depan kelas (misal menyanyi, dll).
6.            Guru menyimpulkan.

5.              EXAMPLES NON EXAMPLES
Contoh dapat dari kasus atau gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah :
1.         Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2.         Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/LCD.
3.         Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar.
4.         Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5.         Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
6.         Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7.         Kesimpulan.

Sabtu, 16 Januari 2016

KEGIATAN PEMBELAJARAN DENGAN MODEL DISCOVERY LEARNING, PROBLEM BASED LEARNING, DAN PROJECT BASED LEARNING



Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan menengah pada lampirannya menyatakan bahwa model pembelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang mempunyai nama, ciri, sintak, pengaturan, dan budaya. Pada lampiran tersebut juga disebutkan model pembelajaran yang mendukung penerapan pendekatan saintifik diantaranya adalah model pembelajaran Berbasis Penemuan  (Discovery Learning), Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), dan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning). Tulisan ini akan memaparkan defenisi, konsep, penjelasan kegiatan siswa/guru dalam sintak, penilaian, dan contoh dalam kegiatan pembelajaran yang terdapat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk setiap model.
1.    Pembelajaran Berbasis Penemuan  (Discovery Learning)
a.    Definisi dan Konsep
1)        Definisi
Discovery mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui, masalah yang diperhadapkan kepada peserta didik semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga peserta didik harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian, sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah.  Pada Discovery Learning   materi   yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi   peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.
Penggunaan Discovery Learning, ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Merubah modus Ekspository peserta didik hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery peserta didik menemukan informasi sendiri.

2)        Konsep
Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap peserta didik, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu peserta didik pada tahap eksplorasi. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment, yaitu lingkungan dimana peserta didik dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar peserta didik dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif.
Dalam Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, peserta didik dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2005:41). Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historin, atau ahli matematika. Dan melalui kegiatan tersebut peserta didikakan menguasainya, menerapkan, serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.

Senin, 11 Januari 2016

Indikator Sekolah yang Melaksanakan Pembelajaran Kurikulum 2013

 Oleh : 
Adi Saputra, M.Pd
Sesuai dengan kurikulum 2013 pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan saintifik yang mengedepankan siswa yang aktif dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik ini dipengaruhi oleh aliran konstruktivisme. Konstruktivisme  ini memantapkan teori-teori belajar sebelumnya dan memberikan pencerahan bagi peralihan dari konsep belajar yang berpusat pada guru  (teacher-centred learning) ke arah konsep belajar yang berpusat pada peserta didik (student-centred  learning). Orientasi yang berpusat kepada peserta didik pada akhirnya diwujudkan dalam pendekatan belajar aktif (active learning  approach).
Kriteria penerapan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dikemukakan dalam bentuk indikator proses belajar. Indikator dirumuskan agar dapat digunakan sebagai pedoman observasi di tingkat sekolah.
1. Indikator Sekolah  yang Melaksanakan Pembelajaran yang Berpusat Pada Peserta Didik
Indikator (tanda-tanda) terjadinya proses belajar yang aktif dan kreatif pada setting sekolah, ditinjau dari aspek sumber daya manusia, ekspektasi/harapan sekolah, tata tertib, fokus kurikulum,  kegiatan sekolah, lingkungan, fasilitas, nilai dan norma, serta kreativitas dan inovasi, adalah sebagai berikut:
a. Ekspektasi sekolah, kreatifitas, dan inovasi 
1) Prestasi  belajar  peserta  didik  lebih  ditekankan  pada  menghasilkan”daripada ”memahami.” 
2) Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.
3) Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, pot bunga, tempat sampah).
4) Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis
    kapital untuk dijual.
5) Lebih  baik  jika  ada  pameran  karya  peserta  didik  dalam  kurun  waktu tertentu, misalnya sekali 
     dalam satu tahun.
6) Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.
7) Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.
8) Sekolah rapi, bersih, dan teratur.
9) Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.
10) Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.
11) Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.
12) Ada forum penyaluran keluhan peserta didik. 
13) Iklim sekolah lebih demokratis.
14) Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah 
       ada lomba karya ilmiah peserta didik.
15) Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.
16) Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.
17) Peserta  didik  mengetahui  dan  dapat  menjelaskan tentang  lingkungan sekolah (misalnya, nama
      guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).
18) Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.
19) Ada  forum  diskusi  atau  musyawarah  antara  kepala  sekolah  dan  guru maupun tenaga
      kependidikan lainnya secara rutin.
20) Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait 
      (stakeholders).

KUMPULAN BAHAN SERBA SERBI TENTANG KURIKULUM 2013 TERBARU

Kurikulum 2013 sudah mengalami revisi sampai dengan bulan desember tahun 2015. Maka pada tahun  2016 ini merupakan tahun implementasi kurikulum 2013 yang mengalami revisi tersebut. Sejak bulan september tahun 2015 kemaren melalui program pendampingan kurikulum 2013 yang dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan SMA telah ditunjuk 300 sekolah SMA se Indonesia menjadi sekolah model. Sekolah penulis menjadi salah satu dari 300 sekolah tersebut dan penulis menjadi koordinator di klaster sekolah penulis, maka melalui tulisan ini penulis ingin berbagi bahan-bahan tentang kurikulum 2013 yang bisa di download. Bahan ini terdiri dari bahan presentasi dan bahan naskah yang merupakan penjelasan lebih lanjut dari topik tertentu tentang kurikulum 2013.Bahan-bahan ini dimulai dari bahan untuk penyusunan dokumen kurikulum tingkat satuan pendidikan, bahan peminatan, panduan penyusunan silabus, RPP, penilaian, dan sebagainya. Mudah-mudahan bahan-bahan ini bermanfaat.

1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
2. Peminatan
3. Panduan Rencana Kerja Anggaran Sekolah
4.Analisis Konteks
5. Panduan Penyusunan Silabus
6. RPP
7. Model Pembelajaran
8. Penilaian
9. Remidial dan Pengayaan
10. Kepramukaan

Minggu, 03 Januari 2016

CONTOH RPP KURIKULUM 2013 BERDASARKAN PERMENDIKBUD NO 103 TAHUN 2014 DAN PERMENDIKBUD NO 53 TAHUN 2015

Berdasarkan panduan penilaian terbaru yang sesuai dengan Permendikbud No 53 Tahun 2015, maka penilaian sikap lebih disederhanakan dengan mengutamakan instrumen penilaian berbentuk jurnal. Demikian juga kalau kita merujuk Permendikbud No 103 Tahun 2014 tentang pembelajaran terdapat perubahan dalam format RPP terutama dalam komponen tujuan pembelajaran, metode/pendekatan pembelajaran, urutan antar komponen, dan perubahan lainnya. RPP di bawah ini penulis buat untuk menjadi contoh RPP yang terbaru. Namun mungkin masih banyak kekurangannya dan di  bagian bawah terdapat format dalam bentuk word yang dapat di-download. Mudah-mudahan bermanfaat.

 Format Pdf:
http://www.mediafire.com/view/s3schduesbnsu7b/Contoh_RPP_Kimia.pdf

Format Word:
Contoh RPP Kurikulum 2013 Terbaru

Permendikbud No 53 Tahun 2015 tentang Penilaian
Lampiran Permendikbud No 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran

Rabu, 30 Desember 2015

PENILAIAN KURIKULUM 2013 UNTUK SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, DAN SMK BERDASARKAN PERMENDIKBUD NO 53 TAHUN 2015


Oleh:
Adi Saputra, M.Pd

Peraturan menteri ini sudah lama ditunggu oleh stakeholder pendidikan di Indonesia terutama sekolah yang menggunakan kurikulum 2013. Hal ini karena pihak sekolah masih banyak yang ragu dalam melaksanakan penilaian yang baru kalau belum ada dasar hukumnya. Penilaian yang banyak mengalami perubahan sesuai dengan permendikbud no 53 tahun 2015 ini adalah penilaian sikap. Penilaian sikap dalam kurikulum 2013 mengalami perubahan yang cukup mendasar. Selama ini penilaian sikap dinilai menggunakan modus dari hasil setiap penilaian yang dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian antar teman, dan jurnal. Namun hal ini membuat repot guru di dalam pembelajaran dalam menyiapkan instrumen dan dalam melakukan penilaiannya. Di samping itu juga kurang cocok rasanya sikap dibuat dalam bentuk nilai kuantitatif, karena sikap agak susah dinilai seperti gunung es sikap hanya tampak yang bagian luarnya saja sedangkan bagian dalam yang lebih besar susah untuk dinilai.
Penilaian sikap yang sesuai dengan permendikbud no 53 tahun 2015 tersebut bisa dibagi berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh guru mata pelajaran dan oleh wali kelas/guru BK yang terutama menggunakan instrumen penilaian berbentuk jurnal. Secara umum penilaian yang dilakukan guru mata pelajaran berkaitan dengan pembelajaran di dalam kelas, sedangkan oleh wali kelas/guru BK berkaitan dengan penilaian sikap di luar kelas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada panduan penilaian di bawah ini, namun sebelumnya harap Anda download. Bahan lain yang dapat Anda download adalah KD revisi terbaru, Aplikasi Rapor yang sesuai dengan penilaian terbaru. Mudah-mudahan bahan/dokumen ini bermanfaat.