Jumat, 13 Mei 2016

KATA-KATA BIJAK UNTUK AFIRMASI DALAM KELAS


Oleh : Adi Saputra, M.Pd

Kelas merupakan tempat pembelajaran atau proses belajar mengajar dan sebagian besar waktu peserta didik berada di sini. Mulai dari pagi sampai pulang sekolah dengan rata-rata 6 - 7 jam dalam satu hari. Jadi memang selayaknya lah kelas harus didesain senyaman dan sebaik mungkin yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Kelas sebaiknya juga
di tempeli dengan karya peserta didik, foto pahlawan, lambang negara, dan asesoris lainnya. Namun tidak kalah penting juga perlu ditambahkan juga dengan kata-kata motivasi atau berupa kata-kata afirmasi.
Afirmasi diri adalah pernyataan positif atau kalimat yang ditujukan untuk diri sendiri yang bisa mempengaruhi pikiran bawah sadar untuk membantu peserta didik mengembangkan persepsi yang lebih positif terhadap dirinya sendiri. Adanya sebuah afirmasi bisa membantu peserta didik mengubah perilaku yang merugikan atau untuk mencapai suatu tujuan, dan afirmasi juga bisa memulihkan luka yang disebabkan oleh kalimat-kalimat negatif yang berulang-ulang kita katakan kepada diri sendiri sebagai seorang peserta didik (atau dikatakan berulang-ulang oleh orang lain kepada mereka) sehingga membentuk persepsi diri yang negatif.Di bawah ini terdapat beberapa kata-kata afirmasi yang penulis peroleh dari beberapa sumber dan kata-kata afirmasi ini bisa ditempel di dinding kelas. Mudah-mudahan bermanfaat.

Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan itu Anda dapat mengubah dunia
 – Nelson Mandela

Pendidikan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini
Malcolm X

"Bila Anda tidak mempunyai visi akan seperti bagaimana masa depan Anda, maka masa depan Anda tersebut terancam menjadi sekedar pengulangan dari semua yang terjadi di masa lalu Anda."
-A. R. Bernard

Tujuan dari belajar adalah terus tumbuh. Akal tidak sama dengan tubuh, akal terus bertumbuh selama kita hidup
Martimer Adler

"Aku mungkin tidak tahu kunci sukses itu apa, tetapi aku tahu dengan pasti bahwa kunci kegagalan itu adalah mencoba menyenangkan semua orang (Ini tidak mungkin bisa Anda lakukan)."
-Bill Cosby-

Pembelajaran tidak didapat dengan kebetulan. Ia harus dicari dengan semangat dan disimak dengan tekun
 Abigail Adams

Minggu, 24 April 2016

CARA PENYUSUNAN RPP KURIKULUM 2013 TERBARU (Sesuai dengan Perbaikan Kurikulum 2013 Terbaru)


Oleh : Adi Saputra, M.Pd
A.      Pendahuluan
Tahap pertama dalam pembelajaran yaitu perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).  Setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP untuk kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas) di SD/MI dan untuk guru mata pelajaran yang diampunya untuk guru SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Untuk menyusun RPP yang benar Anda dapat mempelajari hakikat, prinsip dan langkah-langkah penyusunan RPP seperti yang salah satunya tertera pada Permendiknas tentang Pembelajaran  Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah - Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran nomor 103 Tahun 2014. Namun peraturan ini bisa jadi direvisi sesuai dengan beberapa perbaikan kurikulum 2013.
Perbaikan seperti disebutkan di atas itu salah satunya adalah 5M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah data, dan memgkomunikasikan)bukanlah prosedur atau langkah-langkah atau pendekatan pembelajaran. Namun 5M merupakan kemampuan proses berpikir yang perlu dilatih secara terus menerus melalui pembelajaran agar peserta didik terbiasa berpikir secara saintifik. Jadi penekanan pada kegiatan inti pada pembelajaran adalah pembelajaran yang berupa pembelajaran aktif (active learning).
Perbaikan selanjutnya yang berkaitan dengan RPP adalah rumusan KD pada KI-1 dan KD pada KI-2. Rumusan ini untuk mata pelajaran selain mata pelajaran pendidikan agama-budi pekerti dan PPKN tidak disusun secara koheren dan linier. Artinya KD-1 dan KD-2 hanya satu, yang ada nanti di silabus adalah KD-3 dan KD-4 yang disusun secara koheren dan linier yang selalu berpasangan.
Kemudian juga kurikulum 2013 sebenarnya menekankan pada pencapaian kompetensi yang terdapat pada KD bukan pada materi pelajaran, sehingga nanti ketuntasannya berupa ketuntasan KD begitu juga dengan penilaiannya. Guru juga seharusnya berpikir bahwasanya indikator-indikator berperan dalam menuntaskan KD, KD-KD berperan menuntaskan KI, KI-KI berperan menuntaskan SKL satuan pendidikan.
Pada tulisan ini dilengkapi uraian tentang komponen RPP serta contoh RPP yang telah mengalami perbaikan dan kita tetap menggunakan aturan yang terdapat dalam Permendikbud No 103 Tahun 2014 selama peraturan ini belum direvisi dan Permendikbud No 53 Tahun 2015.

B.       Format RPP
Secara lebih jelas komponen-komponen RPP secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN  
(RPP)
Sekolah                        :           SMAS Harapan Batam
Mata pelajaran           :           Kimia
Kelas/Semester           :           ……/……………
 Alokasi Waktu             :           …………………..
A.     Kompetensi Inti (KI)
KI-1 :  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI-2 :  Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI-3 :……………….
KI-4 :………………                                                     

B.      Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
3.1………………
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.1.1………..
3.1.2…………, dst

4.1………………
Indikator Pencapaian Kompetensi
4.1.1………….
4.1.2…………., dst

C.      Materi Pembelajaran 
(disajikan materi pokok saja dan bisa dibagi berdasarkan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif.  Rincian materi setiap pertemuan dinyatakan dalam Lampiran)

D.     Kegiatan Pembelajaran
Indikator: …
(indikator yang dirujuk untuk pembelajaran pertemuan pertama)
1.    Pertemuan Pertama: (...JP)
a.      Kegiatan Pendahuluan

b.      Kegiatan Inti

c.       Kegiatan Penutup
2.    Pertemuan Kedua: (...JP)
Indikator: …
(indikator yang dirujuk untuk pembelajaran pertemuan kedua)
a.  Kegiatan Pendahuluan
b.  Kegiatan Inti
c.  Kegiatan Penutup
3.      Pertemuan seterusnya.

E.      Teknik penilaian
1.      Penilaian Pengetahuan
a.      Aspek yang di nilai
b.      Teknik penilaian
c.       Instrumen (terlampir)
d.      Rubrik Penilaian (terlampir)
2.      Penilaian Keterampilan
a.      Aspek yang di nilai
b.      Teknik penilaian
c.       Instrumen (terlampir)
d.      Rubrik Penilaian (terlampir)
(disajikan nama Teknik Penilaian, instrumen lengkap Penilaian setiap pertemuan dimuat dalam Lampiran Instrumen Penilaian Pertemuan 1, Lampiran Instrumen  Penilaian Pertemuan 2, dan seterusnya tergantung pada banyak pertemuan)
F.       Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar
1. Media/alat
2. Bahan
3. Sumber Belajar
Lampiran-lampiran:
1.         Materi Pembelajaran Pertemuan 1
2.         Instrumen Penilaian Pertemuan 1
3.         Materi Pembelajaran Pertemuan 2
4.         Instrumen Penilaian Pertemuan 2
dan seterusnya tergantung banyak pertemuan.

Catatan : Format RPP di atas tidak baku, guru dapat mengembangkan format RPP sesuai dengan kebutuhan dengan tidak mengurangi  esensi dari RPP.

C.       Langkah Penyusunan RPP
1.    Pengkajian silabus.
Silabus yang baru hanya memuat  KI  dan  KD, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar guru lebih kreatif dan bisa menyesuaikan dengan kondisi di masing-masing satuan pendidikan. Silabus diharapkan sebgai sumber inspirasi bagi guru. Maka untuk itu guru perlu mengkaji :
a.         Penilaian pembelajaran, alokasi waktu,  dan sumber belajar yang akan digunakan.
b.         Perumusan indikator pencapaian KD pada KI-3, dan KI-4.
Indikator pencapaian kompetensi yang ditentukan terutama untuk KD 3 dan KD 4. Indikator untuk KD  diturunkan dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan dalam bentuk perilaku umum yang bermuatan nilai dan sikap yang gejalanya dapat diamati sebagai dampak pengiring dari KD pada KI-3 dan KI-4. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik. Namun untuk indikator/karakter yang akan dikembangkan sebaiknya disepakati secara bersama oleh satuan pendidikan dan bisa jadi setiap semester akan berbeda. Misalnya yang akan dikembangkan untuk spiritual (1) berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan; (2) menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya; dan (3) bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan untuk indikator sikap sosial: (1) jujur; (2) disiplin; dan (3) tanggung jawab.

Sabtu, 16 April 2016

4 Subtansi Perbaikan Kurikulum 2013

 Oleh:
Adi Saputra, M.Pd
Kurikulum 2013 mengalami perubahan atau perbaikan. Perbaikan ini bertujuan salah satunya untuk memudahkan pihak pendidik dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 di dalam pembelajaran. Secara singkat penulis mencoba untuk menjelaskan 4 substansi perbaikan kurikulum 2013.
1. Koherensi KI/KD dan Penyelarasan Dokumen
Koherensi ini terdiri dari koherensi vertikal dan koherensi horizontal. Koherensi vertikal adalah kesinambungan cakupan dan urutan KD sejak kelas I SD sampai dengan kelas XII SMA/SMK/MA. Sedangkan koherensi horizontal adalah keselarasan cakupan dan urutan KD antar mata pelajaran. Perbaikan ini terutama banyak terjadi pada mata pelajaran matematika dan bahasa indonesia.
Penyelarasan dokumen merupakan keselarasan antara dokumen KI/KD, silabus, dan buku. Selama ini banyak yang kurang sinkron antara ketiga komponen tersebut. Di bawah ini ada contoh silabus kimia terbaru.
2. Penataan Kompetensi Sikap Spritual dan Sosial
Pada mata pelajaran pendidikan agama-budi pekerti dan PPKN, pembelajaran sikap spiritual dan sosial dilaksanakan melalui pembelajaran langsung dan tidak langsung. Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP. Dalam pembelajaran langsung peserta didik melakukan kegiatan proses berpikir secara saintifik. Pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan langsung, yang disebut dengan dampak pembelajaran (instructional effect).
Kemudian untuk kedua mata pelajaran ini KD pada KI-1 dan KD pada KI-2 disusun secara koheren dan linier dengan KD pada KI-3 dan KD pada KI-4. Sedangkan untuk mata pelajaran lain, pembelajarannya merupakan pembelajaran tidak langsung dengan KD pada KI-1 dan KD pada KI-2 dirumuskan secara umum dan terakumulasi menjadi satu KD pada KI-1 dan satu KD pada KI-2. Pembelajaran tidak langsung ini berarti pembelajarannya tidak dirancang dalam silabus dan RPP, namun dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant effect) selama proses pembelajaran langsung. Pembelajaran tidak langsung ini dapat dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah. Sehingga pada akhir penilaian sikap baik spiritual mau pun sosial di rapor dibuat dalam bentuk deskriptif. Contoh penataannya seperti di bawah ini.
  
3. Penataan Kompetensi yang Tidak Dibatasi Oleh Pemenggalan Taksonomi Berpikir
Perubahannya pada taksonomi berpikir yang selama ini untuk SD sampai berpikir memahami, SMP menerapkan, SMA mencipta. Maka untuk kurikulum perubahan ini tingkat berpikir tersebut tidak dibatasi, bisa saja untuk SD sampai pada tingkat mencipta. 
4. Pemberian Ruang Kreatif Kepada Pendidik dalam Mengimplementasikan Kurikulum
Pemberian ruang kreatif disini tercakup dalam tiga hal, pertama silabus yang dibuat oleh pemerintah merupakan salah satu model untuk memberikan inspirasi, guru dapat mengembangkan sesuai dengan konteks yang relevan. Silabus yang sekarang hanya terdiri dari tiga komponen, yakni KD, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran dan selebihnya pendidik yang berkreasi. Kedua, dalam pembelajaran tematik (khusus SD) guru dapat mengembangkan tema atau sub tema sesuai dengan konteks yang relevan. Ketiga, bahwa pada proses pembelajaran 5M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi, dan mengkomunikasikan) bukanlah prosedur atau langkah-langkah atau pendekatan pembelajaran. Namun 5M merupakan kemampuan proses berpikir yang perlu dilatih secara terus menerus melalui pembelajaran agar peserta didik terbiasa berpikir secara saintifik.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi pendidik untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 secara baik di dalam pembelajarannya masing-masing. Salam, "Maju Bersama, Hebat Semua".

Sumber: 
Panduan Penilaian SMA
Presentasi Kebijakan dan Dinamika Perkembangan Kurikulum 2013